Salib, Kasih, dan Kita; Memaknai Ulang Wafatnya Yesus
Jumat Agung selalu datang dalam kesunyian. Tidak ada pesta, tidak ada perayaan besar. Tetapi bagi umat Kristiani, hari ini sangat sakral. Jumat Agung adalah hari ketika Yesus Kristus wafat di kayu salib. Sebuah peristiwa yang penuh duka, namun juga penuh makna. Bukan hanya makna spiritual bagi para penganutnya, tetapi juga makna sosial yang relevan untuk kita semua, terutama dalam kehidupan berbangsa yang plural seperti Indonesia.
Di negeri yang terdiri dari ribuan pulau dan berbagai agama ini, hidup bersama dalam damai bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari upaya saling memahami, saling menghormati, dan saling berbagi ruang. Dalam konteks itulah, hari Wafat Yesus—yang setiap tahunnya ditetapkan sebagai hari libur nasional—patut kita renungkan lebih dalam.
Lebih dari Sekadar Hari Libur
Bagi umat Kristiani, wafatnya Yesus bukan hanya tentang kematian. Ini adalah kisah kasih yang agung—Yesus memberikan hidup-Nya demi menebus umat manusia. Dalam Injil Yohanes (15:13), tertulis, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Ini adalah inti dari Jumat Agung: kasih tanpa batas.
Namun, ketika negara turut menetapkan hari ini sebagai hari libur nasional, maknanya meluas. Penetapan ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk mengakui dan menghormati semua keyakinan. Kita punya hari libur untuk Lebaran, Nyepi, Waisak, Natal, hingga Jumat Agung. Semua agama diberi ruang yang setara. Ini adalah wujud nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang kita jaga bersama.
Filsuf dan imam Jesuit, Franz Magnis-Suseno, dalam bukunya Etika Politik (2001), menekankan pentingnya pengakuan negara terhadap keberagaman agama sebagai bentuk keadilan sosial. Ketika umat Kristen diberikan ruang untuk memperingati hari sucinya, itu bukan hanya soal kebebasan beragama, tetapi juga soal rasa dihargai sebagai warga negara yang setara.
Kasih dan Pengorbanan yang Universal
Apa hubungan antara peristiwa salib dua ribu tahun lalu dengan kehidupan kita hari ini? Jawabannya terletak pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya: kasih, pengorbanan, dan pengampunan.
Nilai-nilai ini tidak eksklusif milik satu agama. Ia adalah bagian dari kebajikan universal yang dibutuhkan semua masyarakat, terlebih di tengah zaman yang kian terpolarisasi. Ketika dunia—termasuk Indonesia—diwarnai oleh isu intoleransi dan sentimen keagamaan, maka kisah tentang kasih yang melampaui kepentingan diri menjadi sangat relevan.
Dalam bukunya The Cross of Christ, teolog John Stott menulis bahwa salib adalah tempat pertemuan antara keadilan dan kasih. Di sanalah manusia belajar bahwa mencintai sesama berarti rela berkorban. Dan pengorbanan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral tertinggi.
Ruang Bertemu di Tengah Perbedaan
Di beberapa daerah di Indonesia, kita melihat praktik yang indah: saat Lebaran, umat Kristen ikut membantu menjaga keamanan masjid. Saat Natal dan Jumat Agung, umat Muslim ikut membantu menjaga gereja. Ini bukan soal ritual, tapi soal relasi. Ini bukan tentang siapa yang percaya pada apa, tapi tentang siapa yang bersedia menjaga siapa.
Sosiolog Emile Durkheim pernah menyatakan dalam The Elementary Forms of Religious Life (1912), bahwa agama berperan penting dalam menciptakan solidaritas sosial. Ia tidak hanya menjadi jalan spiritual, tapi juga membentuk nilai dan norma dalam masyarakat. Hari-hari besar keagamaan, termasuk Jumat Agung, bisa menjadi momen membangun kembali solidaritas tersebut.
Sayangnya, masih ada sebagian kecil masyarakat yang belum bisa melihat keberagaman sebagai kekuatan. Di sinilah pentingnya pendidikan lintas iman. Dalam jurnal Interfaith Dialogue and Religious Harmony in Indonesia (Syamsiyatun, 2013), disebutkan bahwa mengenalkan nilai-nilai agama lain sejak dini terbukti meningkatkan rasa saling pengertian dan menurunkan sikap intoleransi.
Bayangkan jika setiap sekolah menggunakan hari-hari besar keagamaan bukan hanya sebagai hari libur, tetapi juga sebagai momen belajar: apa makna di balik Nyepi? Mengapa umat Kristiani memperingati Jumat Agung? Mengapa umat Buddha merayakan Waisak? Ketika pemahaman tumbuh, rasa takut terhadap perbedaan perlahan menghilang.
Salib sebagai Cermin Sosial
Wafatnya Yesus di kayu salib tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial pada zamannya: kekuasaan yang menindas, pengadilan yang tidak adil, dan masyarakat yang terpecah. Dalam konteks kekinian, salib bisa dibaca sebagai cermin: sejauh mana kita memperlakukan yang lemah? Sejauh mana kita bersedia berkorban demi sesama?
Dalam konteks kebangsaan, ini berarti bersedia berdialog, meski berbeda pandangan. Bersedia membuka ruang, meski bukan untuk diri sendiri. Dan yang paling penting, bersedia mengampuni dan memaafkan, bahkan ketika kita yang disakiti. Karena seperti yang ditunjukkan Yesus di salib, pengampunan adalah kekuatan paling radikal untuk mengubah dunia.
Akhir Kata: Mewarisi Kasih, Merawat Harmoni
Setiap bangsa punya cara untuk merawat keutuhannya. Di Indonesia, cara itu adalah dengan merawat keberagaman. Dan dalam merawat keberagaman, kita tidak hanya butuh toleransi, tapi juga empati. Tidak cukup hanya menerima bahwa orang lain berbeda, tapi juga berusaha memahami apa yang mereka yakini dan rayakan.
Jumat Agung memberi kita kesempatan untuk belajar. Bukan hanya tentang iman orang lain, tapi juga tentang diri kita sendiri: apakah kita cukup terbuka untuk memahami perbedaan? Apakah kita cukup kuat untuk mengasihi meski tidak selalu disetujui? Apakah kita cukup berani untuk menjaga jembatan, bukan membangun tembok?
Di tengah dunia yang mudah terpecah karena identitas, wafatnya Yesus mengingatkan bahwa kasih selalu bisa menjadi jalan. Dan dari jalan itulah, kita bisa membangun rumah bersama—rumah yang kita sebut Indonesia.




